Proses
Penjurian Lomba Menulis Surat, Puisi dan Menggambar
Kerjasama TAPAK AMBON dan LISAN
Makassar, 2-16 Mei 2002
Tragedi kemanusiaan di Kepulauan Maluku, selama ini, cenderung hanya
dilihat dari sudut pandang orang dewasa, bukan dari sudut pandang anak-anak.
Anak-anak seolah lenyap dari wacana penyelesaian konflik meski kenyataannya
ribuan dari mereka telah ikut menjadi korban dan terpaksa menerima kenyataan
hidup sebagai pengungsi (internal displaced children). Untuk mengetahui
pikiran, perasaan serta harapan anak-anak pengungsi Maluku dan Maluku Utara di
Sulawesi Selatan, sekaligus dalam rangka memperingati Hari Keluarga
Internasional, 15 Mei, Lembaga Investigasi Studi Advokasi Media dan Anak
(LISAN) dan Tim Advokasi Penyelesaian Kasus (TAPAK) AMBON, mengadakan Lomba
Menulis Surat, Puisi dan Menggambar dengan tema ”Maluku yang Beta Kenal”.
Tujuan kegiatan ini, antara lain:
·
Untuk
mengetahui kondisi kejiwaan pengungsi anak setelah tiga tahun tinggal di
Sulsel.
·
Untuk mengetahui
peta sebaran pengungsi (anak) Maluku dan Maluku Utara di Sulsel.
·
Sebagai bahan
advokasi bagi pemerintah guna mengubah paradigma penanganan pengungsi anak, khususnya yang ada di Sulsel.
Agar kegiatan ini mencapai apa yang diharapkan, kami melakukan serangkaian
kegiatan, antara lain:
ü
Mendatangi
langsung tempat tinggal para pengungsi dan melakukan dialog dengan kelompok
pengungsi serta organisasi yang mendampingi mereka.
ü
Mengontak
beberapa tokoh Maluku di Sulsel untuk mendapatkan informasi dan dukungan moral.
ü
Lobby dan
audience dengan Kepala Unicef Perwakilan Makassar, Pangdam VII/Wirabuana
(beberapa lembaga yang dihubungi tidak memberi respon).
ü
Diseminasi/sosialisasi
kegiatan melalui iklan layanan masyarakat melalui radio dan surat kabar,
pemasangan panflet, poster, sticker dan spanduk.
Karya yang masuk ke panitia seluruhnya berjumlah 51 karya (surat, puisi
dan gambar) berasal dari Kabupaten Gowa, Kabupaten Wajo dan Kota Makassar. Pada
saat puncak kegiatan, tanggal 15 Mei 2002, dilaksanakan pameran hasil karya
peserta dan dirangkaikan dengan diskusi panel yang dihadiri oleh Bapak DR.
Tamrin Amal Tomagola dari Tapak Ambon, Gubernur Sulsel (diwakili) dan Imran
Kawali (wakil pengungsi). Kegiatan ini dilaksanakan di Aula Fort Rotterdam.
Berdasarkan kesepakatan dewan juri,
penjurian dilakukan hari Kamis
(16/5), mulai pukul 16.00 wita bertempat
di Aula Fort Rotterdam, yang menjadi tempat pelaksanaan pameran. Namun
karena DR. dr. A. Razak Thaha dan Ishak Ngeljaratan, yang menjadi dewan juri
untuk Lomba Menulis Surat dan Puisi baru datang pukul 16.20 wita maka penjurian
terpaksa diundur pukul 16.30 wita. Sedangkan untuk Lomba Menggambar, penjurian
terpaksa dilanjutkan keesokan harinya (Jumat) karena belum ada kesepakatan soal
pemenang. Selain dewan juri, hadir pada saat penjurian adalah panitia dari
LISAN dan Zairin Salampessy dari TAPAK Ambon.
Berikut ini
adalah catatan mengenai proses penjurian dan hasil penjurian berdasarkan
masing-maing ketegori lomba:
a.
Lomba
Menulis Puisi
Dewan Juri Lomba Menulis
Puisi terdiri dari DR. dr. A. Razak Thaha (Budayawan), Drs. Ishak Ngeljaratan
(Budayawan/Kolumnis) serta Nelly, siswa Kelas II SMU Hang Tuah, Makasar. Dengan
komposisi dewan juri seperti ini diharapkan telah memenuhi aspek gender dan hak
partisipasi anak.
Sebelum penjurian dilakukan,
mula-mula dewan juri mencocokkan jumlah karya yang ada ditangan mereka
masing-masing. Ini untuk memastikan setiap dewan juri mendapat karya (yang
sudah digandakan melalui photo copy) yang sama banyak, sesuai jumlah karya yang
masuk. Sehingga semua karya yang masuk dapat
dinilai dan tidak ada yang terlewatkan atau tercecer. Setelah dicocokkan
diketahui jumlah karya untuk Lomba Menulis Puisi sebanyak 11 (sebelas) karya.
Selanjutnya, disepakati bahwa masing-masing juri memilih 6 (enam) karya yang
dinominasikan sebagai karya terbaik. Berikut ini hasil pilihan masing-masing
juri, yang dilakukan secara acak.
Bapak DR. dr. A. Razak Thaha
memilih, sebagai berikut:
-Maluku yang Indah
-Tragedi Idul Fitri
-Jiwa Picisan
-Ambon yang Beta Kenal
-Maluku yang Beta Kenal
-Malukuku yang Hilang
Bapak Drs. Ishak Ngeljaratan
memilih, sebagai berikut:
-Maluku yang Indah
-Tragedi Idul Fitri
-Ambon yang Beta Kenal
-Sampe Jua
-Jiwa Picisan
-Maluku yang Beta Kenal
Nelly memilih, sebagai
berikut:
-Tragedi Idul Fitri
-Jiwa Picisan
-Maluku yang Indah
-Malukuku yang Hilang
-Maluku yang Beta Kenal
Berikut ini komentar masing-masing juri.
Puisi ”Jiwa Picisan” dipilih karena ada irama dalam kalimat yang dibuat. Sebenarnya ”Tragedi Idul Fitri” bagus. Penulis bisa menggambarkan keadaan yang begitu hebat yang dirasakan. Sayang ia memberi kesan bahwa perang yang terjadi di Ambon adalah perang agama. Ada juga kesan dendam. Kalau kita memilih dia atau kita mengiyakan maka kita seakan menjastifikasi apa yang ditulis. Kita benarkan dia.
Kita mestinya tidak melihat puisi ini dari sisi politik. Memang kalau dari sisi politik kita akan menganggap puisi ”Tragedi Idul Fitri” memihak kelompok Islam. Namun sebagai orang Nasrani, saya melihat bahwa puisi ini memiliki daya magis yang luar biasa. Dia merupakan perpaduan antara semangat penulisnya sebagai seorang muslim dan panggilan rasa kemanusiaan. Ada semacam perang suci juga semacam lagu surgawi. Anak ini, tidak habis pikir, bagaimana ketika orang selesai shalat ada serangan. Dia sama sekali, saya kira, belum berpikir politis. Dia juga sebenarnya bukan bermaksud balas dendam. Kalau dia menulis ”Pekik Allahuakbar / Bagaikan halilintar membelah bumi / Menghujam kalbu setiap muslim / Membangunkan hati yang tertidur / Berselimut rasa ketakutan / Bersama syuhada maju ke medan perang,” itu merupakan bentuk panggilan jiwanya sebagai seorang muslim.
A. Razak Thaha
Kalau kita tidak punya
pikiran lain, karya Zulfikar ini memang bagus karena memang strukturnya bagus.
Dengan baik dia menulis, ”Lonceng gereja sahut-menyahut / Bagaikan khotbah sang
pendeta / Yang melagukan senandung kematian / Bagi muslim yang merana.” Kalau
sampai di sini, penggambarannya sangat bagus. Kalau dari sisi anak, karya ini
bagus asal tidak dikaitkan dengan unsur politik. Lagi pula, kalau kita mengakui
bahwa puisi itu menjadi saksi dan mewakili semangat zamannya maka puisi
”Tragedi Idul Fitri” pantas menang.
”Tapi bagaimana dengan kamu, Dik?” tanya dokter
Razak Thaha pada Nelly.
Saya juga memilih karya
ini.
”Maluku yang Indah” ini
bagus. Ada semacam kenangan yang terus dibawa anak-anak.
Pilihan katanya luar biasa. Dia melihat
Maluku telah berubah, telah musnah dan sirna dengan adanya kerusuhan itu. Tapi
dia mengatakan, ”Aku akan melahirkanmu kembali.” Ini kata-kata luar biasa yang
diungkapkan seorang anak. Dia ingin menjadi ’ibu’ agar bisa melahirkan Maluku
yang indah kembali.
Anak-anak ini semuanya
pandai dan berbakat. Anak-anak yang baru berumur 9 dan 11 tahun sudah bisa
menulis dengan baik. Meski penyampaiannya masih secara langsung. Kalau ada yang
membimbing-ke depan-mungkin mereka lebih baik lagi.
Dewan Juri kemudian bersepakat menetapkan juara
untuk kategori Lomba Menulis Puisi adalah, sebagai berikut:
Juara I :
Tragedi Idul Fitri (Zulfikar Imran-Gowa)
Juara II :
Maluku yang Indah (Sutria Tihurua-Wajo)
Juara III :
Ambon yang Beta Kenal (Amelia Sulaiman Noer-Gowa)
Harapan I :
Jiwa Picisan (Luqman, SMU Nasional-Makassar)
Harapan III : Malukuku yang Hilang (Juleha Kunia-Wajo)
b.
Lomba
Menulis Surat
Penjurian untuk Lomba Menulis Surat dilakukan setelah penjurian untuk mata Lomba Menulis Puisi oleh dewan juri yang sama. Prosesnya juga hampir sama. Mula-mula para juri mencocokkan jumlah karya yang diperolehnya masing-masing. Diketahui kemudian bahwa Lomba Menulis Surat ini diikuti oleh 7 (tujuh) karya. Setelah itu dewan juri menyepakati 3 (tiga) karya yang dinominasikan. Kebetulan semua juri memiliki pilihan yang sama, yakni:
-Menjumpai Sahabatku Nyohon Saiya di Ambon, karya
Zulfikar Imran.
-Kepada Yth. Om Kress dkk
di Amboina, karya Fadly.
-Buat Sahabatku Tanmie Nur Aimy di Ternate, karya
Sukardi Razak.
Berikut ini komentar masing-masing juri.
Nah, kalau kita baca surat yang ditulis
Zulfikar terlihat bahwa dia tidak dendam. Jadi suratnya ini menguatkan
puisinya. Lagipula Zulfikar lebih jujur mengungkapkan isi hatinya.
Kalau Sukardi cara penyampaiannya kelewat formal. Kalau surat yang ditulis
Fadly, terasa sekali nuansa Ambonnya. Ini yang perlu diangkat. Dengar apa yang
dia tulis (Razak Thaha lantas membacakan bagian terakhir dari surat yang
ditulis Fadly), ”Trima kasih om salam dari beta.” Kalimat ini enak sekali
didengar. Ini ungkapan khas orang Ambon.
Saya memilih Sukardi Razak karena dia menulis kepada temannya yang berbeda agama.
Ishak Ngeljaratan
Surat yang ditulis Zulfikar juga demikian. Dia menulis surat buat temannya yang beragama Kristen (hal ini juga diiyakan oleh Razak Thaha).
Setelah proses diskusi ini, juri kemudian
menyepakati juara-juara untuk kategori Lomba Menulis Surat ini yakni, sebagai
berikut:
Juara I :
Menjumpai Sahabatku Nyohon Saiya di Ambon
(Zulfikar
Imran-Gowa)
Juara II :
Kepada Yth. Om Kress dkk di Amboina (Fadly-Makasssar)
Juara III :
Buat Sahabatku Tanmie Nur Aimy di Ternate
(Sukardi Razak-Makasar)
Harapan I :
Buat Mama dan Bapak di Sepah (Jurmia-Wajo)
Harapan III : Maluku yang Beta Harapkan (Syaripa Raujiah, BA-Wajo)
Setelah itu ketiga anggota dewan juri menandatangani Berita Acara hasil penjurian sebagai bukti telah disepakatinya hasil penjurian oleh ketiganya.
c.
Lomba
Menggambar
Penjurian untuk Lomba Menggambar semula dilakukan di Aula Fort Rotterdam, yang sekaligus sebagai tempat pameran tapi karena penjurian tidak bisa dirampungkan akhirnya disepakati akan dilanjutkan di sekretariat LISAN, Jalan Daeng Tata I Perumahan Tirta Mas Blok V D2 pada hari Jumat (17/5). Proses penjurian dimulai pukul 14.00 wita oleh angota dewan juri, yang terdiri dari Zaenal Beta (Perupa), Ayub (Kartunis) dan Irma (Siswa SLTP Negeri 2, Makassar).
Para juri mula-mula menyepakati untuk mengajukan 6 (enam) gambar yang dinominasikan. Berikut ini hasilnya:
Zaenal Beta mengajukan gambar karya:
-Fajar Dewantara (gambar pendeta dan kiyai bersalaman)
-Rijal
-Wahyu
-Zulfikar Imran
-Sandi Laksana Said
-Laode Abdul Rasyid
Ayub mengajukan gambar karya:
-Nurfadillah
-Laode Abdul Rasyid
-Pandi Podang
-Dita Septiani
-Fajar Dewantara (gambar pendeta dan kiyai bersalaman)
-Sandi Laksana Said
Irma mengajukan gambar karya:
-Sandi Laksana Said
-Zulfikar Imran
-Rijal
-Fajar Dewantara (gambar anak bersembunyi di bawah tempat tidur)
-Laode Abdul Rasyid
-Irwan Kawali
Dari keseluruhan karya yang dinominasikan ini kemudian disepakati bahwa 3 (tiga) gambar pantas mendapat juara meski belum diketahui akan mendapat juara berapa. Ketiga gambar itu masing-masing milik:
-Sandi Laksana Said
-Fajar Dewantara (gambar pendeta dan kiyai bersalaman)
-La Ode Abdul Rasyid
Setelah itu para juri, secara bergiliran meemberi komentar terhadap karya lain, yang semula sudah dinominasikan. Berikut ini komentar dan diskusinya:
Ayub
Gambar ”Maluku yang Beta Kenal” karya Sandi Laksana Said ingin menunjukkan kepada kita bahwa akar persoalan di Maluku adalah karena lemahnya perugas keamanan. Petugas keamanan seakan tidak berdaya ketika melihat ada orang yang dipotong lehernya sampai putus. Petugas juga tidak bisa berbuat apa-apa ketika ada orang yang mencuri.
Zaenal Beta
Gambar ini juga memliki komposisi bentuk dan warna yang baik.
Irma
Saya memilih karya Irwan Kawali karena ada kepala
terpotong.
Kepala terpotong adalah fokus gambar tersebut.
Untuk karya Zulfikar Imran berjudul ”Apakah ini akan berakhir?”, pelukisnya ingin menyampaikan kepada kita bahwa di Ambon, setiap kali matahari terbenam terjadi pembakaran.
Ini penggambaran konflik yang ingin
menegaskan terjadinya pembakaran dilakukan hampir setiap hari.
Kalau gambar karya Pandi
Podang ini terkesan ada yang membantu dia. Ini bukan karya aslinya. Sebab,
kalau dilihat dia baru Kelas IV SD. Biasanya anak SD belum terlalu ditail saat
menggambar. Lagi pula garis-garis yang dibuat terasa berbeda dan tidak lepas.
Gambar
Dita Septiani berjudul ”Kota Ambon” ini lebih menonjolkan keindahan kota
Ambon. Ada ciri khas Ambon. Ada rumah-rumah. Ada pantai.
Sepertinya tidak ada perubahan pada diri
pelukisnya. Yang diingat adalah yang indah.
Ini gambar Ambon sebelum kerusuhan. Dari
unsur seni lukis kurang baik.
Yang digambar Nurfadillah ini sepertinya
gambar sebuah monumen yang menjadi ciri khas kota Ambon.
(Rusdin, dari panitia, kemudian menjelaskan bahwa di Ambon memang ada sebuah monumen yang terkenal yakni Monumen Trikora)
Sebenarnya Nurfadillah berharap matahari
terbit kembali. Dia menggambar bendera
merah putih di halaman gereja dan mesjid untuk menunjukkan bahwa sebenarnya
mereka adalah satu bangsa. Kalau mereka satu bangsa, Indonesia, menurut
pikirannya, mestinya di antara umat yang berbeda agama itu dapat hidup damai.
Yang menarik dari gambar Rijal karena dia menggambar matahari
di bawah. Tidak seperti biasanya: di langit.
Dia melihat sepertinya Ketuhanan Yang Maha
Esa sudah tidak berlaku lagi. Ketuhanan Yang Maha Esa tidak lagi berdaya
sehingga semangat kebhinnekaan juga hilang.
Tapi dia kayaknya melihat hanya dari satu
unsur saja, yakni agama Kristen.
Kalau saya justru melihat sebaliknya. Anak
ini kan beragama Islam. Lewat simbol-simbol dia seperti berteriak,
dimana Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai anak yang masih kecil, dia baru
mengenal bentuk sehingga pikirannya digambarkan melalui permainan simbol.
Gunung digambarkannya secara warna-warni. Ini artinya dia berharap Ambon meriah
lagi. Di sini dia juga menggambarkan Sinchan (tokoh kartun produk Jepang)
sedang mengendarai pesawat, seolah dia ingin meminta tolong pada Sinchan.
Kalau gambar milik Wahyu HMP ini terkesan
banyak sekali coretan-coretan liarnya.
Terlihat ada kegelisahan dalam dirinya.
Dia tidak bisa lagi mengenal bentuk karena tidak ada lagi objek yang jelas,
yang masih utuh dalam ingatannya. Anak ini juga seolah melihat kelompok Kristen
akan mendominasi. Sebab semula dia sudah menggambar mesjid tapi kemudian
menghapusnya dan diganti dengan simbol Kristen, seperti salib. Di sini dia
menggambar orang bermain layang-layang
berbentuk salib.
Zulfikar Imran yang
menggambar anak bersembunyi di bawah kolong tempat tidur menunjukkan anak yang
sedang ketakutan.
Bukan cuma ketakutan tapi sepertinya dia
ingin menggambarkan pengalamannya sendiri atau peristiwa yang dia lihat.
Mungkin ada keluarganya yang menyelamatkan diri dengan cara bersembunyi di
bawah kolong tempat tidur. Bisa juga dia seperti pernah melihat orang dibunuh
di tempat tidur sehingga dia takut tidur di situ.
Setelah karya-karya itu dikomentari, dewan juri lantas memilih 3 (tiga)
lukisan terbaik, yakni:
1.
Karya Sandi
Laksana Said (Makassar).
2.
Karya
Zulfikar Imran (Gowa).
3.
Karya Rijal
(Makassar).
Ketiga karya ini dinilai mampu menggambarkan situasi sebagaimana tema
kegiatan, ”Maluku yang Beta Kenal”. Juga dinilai telah memiliki unsur seni
lukis karena digambar dalam komposisi yang baik.
Kemudian dewan juri memilih Juara Harapan I sampai Harapan IV, yakni:
-
Karya Fajar
Dewantara (Gowa).
-
Nurfadillah
(Makassar).
-
Irwan Kawali
(Gowa).
Dengan begitu, dewan juri lantas menetapkan bahwa untuk Lomba Menggambar
yang keluar sebagai pemenang adalah :
Juara I :
Sandi Laksana Said
Juara II :
Zulfikar Imran
Juara III :
Rijal
Harapan I :
Fajar Dewantara
Harapan III : Irwan Kawali
Mereka juga menyepakati bahwa keseluruhan
karya anak-anak yang menang itu jika dirangkaikan menjadi sebuah cerita. Ayub
dan Zaenal Beta secara bergantian lantas menuturkan bahwa ”persoalan di
Maluku berakar pada masalah keamanan. Lemahnya petugas keamanan mengakibatkan terjadinya
pembunuhan dan pencurian. Suatu keadaan yang tidak tentram (gambar milik Sandi
Laksana Said). Keadaan ini kemudian menyulut terjadinya tindakan anarkis.
Kendaraan dibakar di jalan-jalan dan orang-orang dari kelompok (agama) berbeda
saling berperang (gambar milik Zulfikar Imran). Karena pertikaian ini sudah
melibatkan simbol-simbol agama mengakibatkan anak-anak menganggap tidak ada
lagi nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa. Kebhinnekaan, yang menjadi ciri atau
kekayaan bangsa Indonesia hilang lenyap. Padahal anak-anak merindukan hidup
rukun dan damai dalam perbedaan (gambar milik Rijal). Karena itu, untuk
memulihkan keadaaan Maluku yang kacau dibutuhkan peran tokoh agama atau tokoh
masyarakat. Tokoh-tokoh ini diharapkan memberikan contoh bagaimana perdamaian
itu dibangun. Mereka diminta bersalaman untuk mewujudkan perdamaian itu (gambar
milik Fajar Dewantara). Jika masing-masing tokoh dari kelompok berbeda bisa
hidup rukun berdampingan, niscaya umat atau masyarakat akan mengikutinya. Para
pemeluk agama yang berbeda akan saling berkunjung kembali menjalin tali silatur
rahim. Apalagi keduanya hidup dalam bingkai negara Indonesia (gambar milik
Nurfadillah). Bila harapan itu bisa diwujudkan maka kehidupan dapat berjalan
normal kembali. Rumah-rumah bisa dibangun dan orang berkesempatan menata
perabot rumahnya. Dan, tentu saja anak-anak bisa bermain di halaman kembali
(gambar milik Irwan Kawali).”